Jumat, 02 November 2018

Kasus Manajemen Krisis yang Disebabkan Oleh Bencana Alam



Manajemen krisis merupakan suatu sikap memanage pengelolaan, penanggulangan atau pengendalian krisis hingga pemulihan citra dan reputasi sebuah perusahaan. Sedangkan krisis manajemen merupakan kegagalan dari peranan manajemen krisis dan persoalannya menjadi sulit untuk dipulihkan karena perusahaan yang bersangkutan dinyatakan “bubar” baik secara hukum maupun operasionalnya.
Bencana dapat didefinisikan sebagai kejadian yang mengganggu kehidupan normal dan mengakibatkan penderitaan yang melampaui kapasitas manusia untuk menyesuaikan diri/mengatasinya (WHO, 2002). Dampak bencana alam tidak hanya dirasakan pada individu, keluarga, atau komunitas yang mengalami paparan bencana alam secara langsung namun juga yang tidak langsung karena melihat bencana dan dampaknya melalui media televisi atau koran dapat menyebabkan merasakan bencana meskipun tidak seberat yang mengalami langsung.
Fokus psychological first aid utamanya diberikan kepada individu atau komunitas yang mengalami bencana alam dan berpotensi mengalami masalah kesehatan fisik ataupun mental. Psychological first aid menyasar pada kebutuhan dasar individu yang mengalami kondisi darurat atau trauma antara lain pengurangan bahaya yang memberikan ancaman, meningkatkan rasa kontrol, penyediaan serta pemberian informasi yang dibutuhkan, kebutuhan dasar terpenuhi seperti makanan, minuman, kesehatan, tempat berlindung, dan arah untuk masa depan setelah mengalami bencana.
Contoh Kasus Manajemen Krisis Yang Disebabkan Bencana Alam Pada PT. Telekomunikasi Indonesia, Tbk Indonesia rentan terhadap bencana alam dan peristiwa-peristiwa di luar kendali kami, yang berpengaruh negatif pada bisnis dan hasil usaha kami
Banyak daerah di Indonesia, termasuk daerah di mana kami beroperasi, rentan terhadap bencana alam seperti banjir, petir, angin ribut, gempa bumi, tsunami, letusan gunung berapi, kebakaran dan juga kekeringan, pemadaman listrik dan peristiwa lainnya yang berada di luar kendali kami. Kepulauan Indonesia adalah salah satu daerah vulkanik paling aktif di dunia karena berada di zona konvergensi dari tiga lempeng litosfer utama, sehingga mengalami aktivitas seismik yang dapat menyebabkan gempa bumi, tsunami atau gelombang pasang yang merusak. Dari waktu ke waktu, bencana alam telah menelan korban jiwa, merugikan atau membuat sejumlah besar masyarakat mengungsi dan merusak peralatan kami. Peristiwa-peristiwa seperti ini telah terjadi di masa lalu, dan dapat terjadi lagi di masa depan, mengganggu kegiatan usaha kami, menyebabkan kerusakan pada peralatan dan memberikan pengaruh buruk terhadap kinerja finansial dan keuntungan kami.
Dalam beberapa tahun terakhir, beberapa bencana alam telah terjadi di Indonesia (selain tsunami di Asia pada tahun 2004), termasuk tsunami di Pangandaran, Jawa Barat pada tahun 2006, gempa bumi di Yogyakarta, Jawa Tengah pada tahun 2006, erupsi yang kemudian berkembang menjadi banjir lumpur panas di Sidoarjo Jawa Timur di tahun 2006, serta gempa bumi di Papua, Jawa Barat, Sulawesi dan Sumatera pada waktu yang berbeda di tahun 2009.
Gempa bumi yang melanda sebagian wilayah Jawa Barat pada tanggal 2 September 2009 menyebabkan kerusakan pada aset Perusahaan. Pada tanggal 30 September 2009 terjadi gempa di Sumatera Barat, yang mengganggu penyediaan layanan telekomunikasi di beberapa lokasi. Walaupun Tim Manajemen Krisis kami bekerjasama dengan karyawan dan mitra kami berhasil memulihkan layanan dengan cepat, gempa tersebut menyebabkan kerusakan parah terhadap aset kami. Ada sejumlah gempa bumi terdeteksi pada tahun 2010 hingga 2013, walau tidak satupun yang memberikan risiko signifikan terhadap bisnis kami pada umumnya.
Banjir bandang dan banjir yang lebih meluas terjadi secara rutin selama musim hujan dari bulan November sampai bulan April. Kota-kota besar khususnya Jakarta, sering mengalami banjir parah yang mengakibatkan gangguan besar, dan kadang-kadang menimbulkan korban jiwa. Jakarta mengalami banjir yang signifikan pada bulan Februari 2007 dan Solo di Jawa Tengah pada bulan Januari. Pada bulan Januari 2009 terjadi hujan deras yang menyebabkan runtuhnya sebuah bendungan diluar Jakarta, membanjiri ratusan rumah di daerah padat penduduk dan menyebabkan kematian sekitar 100 orang. Longsor terjadi secara rutin di daerah pedesaan selama musim hujan.
Ada banyak gunung berapi di Indonesia yang dapat meletus tanpa peringatan. Pada bulan Oktober dan November 2010, Gunung Merapi di Jawa Tengah meletus beberapa kali, menelan korban jiwa sekitar 140 orang, beberapa ratus ribu orang lainnya pada radius 20 km terpaksa mengungsi, menyebabkan kerusakan properti senilai miliaran Dolar dan mengganggu perjalanan udara. Sejak bulan April 2008, Gunung Soputan di Sulawesi Utara, Gunung Egon di Pulau Flores, Nusa Tenggara, Gunung Ibu di Maluku Utara dan Anak Krakatau di Selat Sunda telah menunjukkan peningkatan aktivitas vulkanik. Gunung Sinabung 60 km barat daya dari Medan, kota terbesar Sumatera Utara, meletus pada tanggal 29 Agustus 2013 setelah tidak beraktivitas selama 400 tahun, dan kembali meletus bulan November 2013. Abu dan asap belerang dari gunung berapi telah menyelimuti pedesaan dan tanaman. Pada tahun 2010, kabel bawah laut yang merupakan bagian dari backbone kami mengalami kerusakan akibat dari tsunami di Sumatera Barat dan gempa di Sumbawa. Atas kerusakan tersebut, sudah dilakukan perbaikan.
Meskipun kami telah menerapkan Rencana Kelanjutan Usaha (Business Continuity Plan/“BCP”) dan Rencana Pemulihan Bencana (Disaster Recovery Plan/“DRP”) yang diuji coba secara berkala, serta telah mengasuransikan aset kami untuk melindungi dari kerugian akibat bencana alam atau fenomena lainnya yang terjadi di luar kendali kami, tidak ada jaminan bahwa perlindungan asuransi akan cukup untuk menutupi potensi kerugian, atau bahwa premi yang dibayarkan untuk polis asuransi tersebut ketika diperbarui tidak akan naik secara substansial di masa depan, maupun bahwa bencana alam tidak akan mengganggu operasional kami secara signifikan.
Kami tidak dapat memberi jaminan bahwa peristiwa geologis atau meteorologis di masa depan tidak akan berdampak lebih besar pada perekonomian Indonesia. Gempa bumi besar, gangguan geologis atau bencana lain akibat gangguan cuaca di kota yang padat penduduk manapun dan pusat-pusat keuangan di Indonesia dapat sangat mengganggu ekonomi Indonesia dan menurunkan kepercayaan investor, sehingga berpengaruh pada bisnis, kondisi keuangan, hasil operasi dan prospek usaha kami. Operasional kami dapat terpengaruh oleh merebaknya wabah flu burung, virus flu A (H1N1) atau epidemi lainnya Merebaknya wabah flu burung, virus flu A (H1N1) atau epidemi serupa, ataupun langkah-langkah yang ditempuh pemerintah di negara-negara yang terjangkit, termasuk Indonesia, dalam menghadapi serangan wabah tersebut, dapat mengganggu perekonomian Indonesia maupun negara-negara lain dan menurunkan kepercayaan investor, sehingga dapat berpengaruh negatif secara material pada kondisi keuangan, hasil-hasil operasional maupun harga saham kami. Selanjutnya, operasi kami dapat terganggu signifikan bila karyawan kami tetap di rumah dan tidak pada tempat kerjanya untuk waktu yang panjang, sehingga dapat berdampak negatif secara material terhadap kondisi keuangan atau hasil operasi kami maupun nilai pasar dari sekuritas kami.
Analisa:
Dalam sebuah proses mengelola suatu usaha terdapat berbagai macam resiko yang dihadapi termasuk dengan resiko dari bencana alam, maka perusahaan seharusnya mempunyai planning untung kegiatan pencegahan. Mereka harus tahu skenario terburuk yang akan terjadi dan harus mempunyai contingency plan dalam menghadapinya. Apabila pencegahan krisis tidak berhasil maka menurut enam langkah berikut segera harus di ambil :
  1. Melakukan Penilaian yang objektif terhadap penyebab Krisis.
  2. Menentukan apakah penyebab terjadinya krisis memiliki dampak jangka panjang atau hanyalah fenomena sesaat.
  3. Perhitungkan setiap kejadian dalam krisis dengan cermat sehingga setiap peristiwa yang terjadi dapat diantisipasi dengan baik.
  4. Memusatkan perhatian pada upaya menyelesaikan masalah.
  5. Memanfaatkan setiap peluang yang ada untuk memperbaiki keadaan.
  6. Segera bertindak untuk melindungi cash flow perusahaan
  7. Bila saja rencana pencegahan yang disusun tidak berhasil sesuai dengan yang diharapkan, sehingga krisis pun terjadi.

Langkah-langkah yang diambil adalah:
  1. Memperbaiki atau mengimplementasikan rencana krisis.
  2. Mengkomunikasikan tindakan yang diambil untuk mengatasi krisis pada publik organisasi.
  3. Menangani publik yang kena dampak.
  4. Mencari dukungan pihak ketiga dari para ahli.
  5. Menerapkan program komunikasi internal dan menjalankan program sehari-hari dengan normal.

Pada masa pasca krisis, organisasi biasanya mengambil langkah-langkah demi perbaikan dalam menghadapi krisis di masa datang, seperti :
  1. Tetap menjalin hubungan dengan publik organisasi.
  2. Memantau isu atau krisis yang mengancam.
  3. Menginformasikan melalui media atau tindakan yang diambil, jika dianggap perlu.
  4. Evaluasi atau rencana krisis yang ada dan kemudian menyertakan feedback atas rencana krisis yang ada.
  5. Mengembangkan strategi komunikasi jangka panjang untuk mengurangi kerusakan yang diakibatkan oleh krisis.



Penulis: Mimi Fatoros Aldi 

Read more

Kerja Public Relation Dalam Mengembalikan Reputasi di Suatu Perusahaan


Public relations adalah fungsi manajemen yang khas dan mendukung pembinaan, pemeliharaan jalur bersama antara organisasi dan pembelinya; menyangkut aktivitas ko-munikasi, pengertian, penerimaan, dan kerjasama yang melibatkan manajemen mampu menanggapi opini publik; mendu-kung manajemen dalam mengukuti dan memanfaatkan perubahan secara efektif; bertindak sebagai sistem pernyataan dini dalam mengantisipasi kecenderungan menggunakan penelitian secara teknik komunikasi yang sehat dan etis sebagai sarana utama (Cutlip et al, 2005: 4).

Sedangkan Manajemen krisis merupakan aktivitas public relations untuk mengatasi krisis, respon perusahaan dalam menghadapi krisis akan berbeda antara satu dengan yang lain. Hal ini bergantung pada jenis dan durasi krisis yang tengah mereka hadapi.

Studi kasus yang akan kita bahas pada tahap ini, yaitu Samsun yg Galaxy Note 7 yang beredar memakan korban karena meledak saat pengisian baterai pada bulan Oktober 2016. Nah kok bisa terjadi sih? Bukannya kecanggihan Samsung Galaxy Note 7 tidak diragukan lagi? Mari kita simak kasus ini. Check it out!!!!

Baru-baru ini dunia dikejutkan dengan kegagalan produk dari perusahaan besar Samsung Galaxy Note 7 yang beredar memakan korban karena meledak saat pengisian baterai. Konsumen loyal Samsung Galaxy Note sangat dikecewakan, karena sudah menanti-nantikan kecanggihan produk tersebut dan ternyata hasilnya tidak sesuai harapan. Meledaknya baterai Samsung Note 7 dialami oleh beberapa konsumen di berbagai negara, seperti di Florida saat konsumen mengisi baterai di dalam mobil. Lalu di Perth, Australia saat konsumen sedang berada di dalam kamar hotel dan beberapa kasus lainnya. Tercatat ada 35 kasus Galaxy Note 7 yang meledak di seluruh dunia.

Selain kekecewaan konsumen, dampak negatif lain dari kasus Galaxy Note 7 ini adalah saham Samsung langsung anjlok 7%. Kerugian finansial lainnya yaitu berdasarkan perkiraan Credit Suisse AG dan dua lembaga finansial lain, biaya penarikan Galaxy Note 7 di seluruh dunia bisa mencapai 1 miliar dollar AS. Bahkan beberapa maskapai penerbangan internasional mengeluarkan kebijakan larangan bagi penumpang untuk membawa Note 7 ke dalam pesawat. Reputasi Samsung sebagai produsen handphone skala global pun menjadi taruhan.

Dengan adanya kejadian tersebut, Presiden Samsung Mobile Business, Koh Dong-jin, meminta maaf dan secara resmi mengumumkan penarikan atau product recall untuk semua Galaxy Note 7. Perusahaan raksasa tersebut tidak hanya sekedar menarik produknya, tetapi mereka memberikan kompensasi kepada konsumen yang telah membeli Note 7. Contoh di Indonesia, Samsung selain mengembalikan uang sesuai harga beli, konsumen juga diberikan sejumlah uang dalam bentuk voucher.

Setelah menyimak kasus diatas, maka dapa kita simpulkan bahwa kasus ini dapat mengancam sebuah reputasi atau citra perusahaan milik Samsung yang telah susah payah dibangun. Upaya-upaya telah dilakukan oleh pihak Samsung tersebut dalam bentuk mengatasi krisis tersebut. Menurut buku Rosady Ruslan dalam bukunya yang berjudul “Praktik dan Solusi Public Relation dalam situasi Krisis dan pemulihan Citra” nah jika dikaitkan kedalam kasus ini sudah teermasuk sebagai krisis dikarenakan produk yang dipasarkan mengalami kegagalan yaitu produk yang dipasarkan tersebut telah membahayakan dan mencelakai konsumen nya. Sehingga agar krisis ini tidak berkembang menjadi krisis yang besar dan bisa merusak reputasi perusahaan maka perlu dilakukan manajemen krisis oleh seorang public relation.

Adapun tahapan strategi penanggulangan dan pengelolaan krisis menurut Rosady Ruslan adalah sebagai berikut:

1.        Mengidentifikasi Krisis

Tahap pertama merupakan penetapan untuk mengetahui suatu masalah krisis. Mengidentifikasi faktor penyebab terjadinya krisis berfungsi untuk mengetahui, apakah public relations (PR) atau perusahaan dapat menangani krisis yang terjadi itu dengan segera atau tidak. Bila krisis tersebut sulit untuk diatasi, membuang waktu, tenaga, dan biaya maka PR dapat melihat segi lain dari krisis tersebut yang persoalannya tidak terbayangkan sebelumnya, yakni biasanya suatu perusahaan yang terkena krisis atau musibah disertai kemunculan masalah lain yang tidak diduga sebelumnya. Oleh karena itu, faktor utama penyebab krisis yang signifikan tersebut harus terlebih dahulu diidentifikasikan, untuk diambil tindakan atau langkah-langkah penanggulangan atau jalan keluarnya secara tepat, cepat dan benar.

2.        Menganalisis Krisis

Diperlukan langkah-langkah yang perlu diambil untuk mengatasi krisis. Langkah tersebut diperoleh dengan menganalisis krisis secara mendalam, sistematis, informatif dan deskriptif terhadap krisis yang terjadi melalui suatu laporan yang mendalam (in-depth reporting). Salah satu cara untuk menganalisis adalah dengan formula 5W + 1H yaitu menganalisis melalui beberapa pertanyaan yang diajukan untuk menetapkan penanggulangan suatu krisis, yakni:

·         What – Apa penyebab terjadinya krisis itu
·         Why – Kenapa krisis itu bisa terjadi
·         Where and when – Dimana dan kapan krisis itu mulai
·         How far – Sejauh mana krisis itu berkembang
·         How – Bagaimana krisis itu terjadi
·         Who – Siapa-siapa yang mampu mengatasi krisis tersebut, apakah perlu dibentuk suatu tim penanggulangan krisis

Pertanyaan-pertanyaan tersebut di atas adalah untuk menganalisis penyebab, mengapa dan bagaimana, sejauh mana perkembangan krisis itu terjadi, dimana mulai terjadi hingga siapa-siapa personel yang mampu diajak untuk mengatasi krisis tersebut.

3.        Mengatasi dan Menanggulangi Krisis

Tahapan ini adalah untuk mengetahui bagaimana dan siapa-siapa personel yang mampu diikutsertakan dalam suatu tim penanggulangan krisis. Mengatasi bagaimana krisis tersebut agar tidak berkembang dan dicegah supaya tidak terulang lagi di masa mendatang. Untuk mengatasinya, selain memberikan informasi yang sejelas-jelasnya, juga perlu diajak pihak ketiga, pejabat pemerintah yang berwenang dalam hal ini, tokoh masyarakat dan lainnya sebagai upaya menetralisasi terhadap tanggapan negatif dan kontroversial.

Karena dianggap sebagai kekuatan, pihak ketiga berfungsi mengukuhkan perbaikan situasi dan kondisi krisis (the third party endorsement), secara tepat dan benar. Tindakan lainnya secara preventif dan antisipatif adalah memperbaiki sistem pengamanan agar lebih ketat dan terjamin dalam proses produksi, mulai dari bahan baku, pengolahan hingga barang jadi untuk menghindarkan kejadian serupa di kemudian hari.

Dari kasus Samsung Galaxy Note 7, tindakan pertama dari pihak perusahaan adalah penarikan (product recall) segera semua produk di pasar, baik yang bermasalah maupun yang tidak bermasalah , untuk menghindarkan jatuhnya korban baru secara cepat dan tepat. Walaupun dalam konferensi pers dinyatakan bahwa produk yang bermasalah hanya 1 berbanding 42.000 unit yang terjual.

4.        Mengevaluasi Krisis

Tindakan terakhir adalah mengevaluasi krisis yang terjadi. Tujuannya adalah untuk melihat sejauh mana perkembangan krisis itu di dalam masyarakat. Apakah perkembangan krisis tersebut berjalan cukup lamban atau cepat, meningkat secara kuantitas maupun kualitas serta bagaimana jenis dan bentuk krisis yang terjadi.
           
Sumber :
Ruslan,Rosady. Manajemen Public Relation dan Media Komunikasi : Konsep dan Aplikasi. 2007. Jakarta: Raja Grafindo Persada

Jurnal Komunikasi, Vol. XI No. 01, Maret 2017: 29-38.


Penulis: Revi Nur Pratiwi

Read more

PR dan Peranannya Dalam Manajemen Krisis



Hampir semua organisasi pernah mengalami krisis, wajar kalau kemudian sekarang ini timbul kesadaran dari pimpinan organisasi bahwa mereka memerlukan kesiapan tersendiri untuk menghadapi krisis, terutama yang berkaitan dengan media relations atau hubungan dengan pers. Kesadaran seperti ini, juga dapat diartikan sebagai peluang yang baik bagi para praktisi PR di organisasi-organisasi.

Seperti diketahui, kemajuan teknologi media, akan dengan mudah dan cepat menyampaikan informasi krisis ke seluruh penjuru. Berita mengenai krisis, isu miring, atau pun berita negatif akan dengan cepat menyebar ke mana-mana. Teknologi internet yang kini menjadi bagian dari kehidupan kita menyebabkan mudahnya memperoleh informasi.

Penyebab terjadinya krisis adalah karena keterbatasan manusia mengatasi berbagai tuntutan lingkungan atau kegagalan teknologi tinggi. Beberapa contoh, memperlihatkan hal tersebut kepada kita. Musibah lainnya yang dapat menyebabkan krisis adalah pemogokan masal, kebakaran, kecelakaan, ancaman pengambilalihan perusahaan, peraturan baru yang merugikan, skandal, resesi ekonomi, dan sebagainya.

Pada dasarnya ada dua macam kemungkinan krisis. Pertama, yang bisa diperhitungkan, dan kedua, yang tidak bisa diperhitungkan. Yang bisa diperhitungkan, berkaitan erat dengan karakteristik atau bidang kegiatan yang digeluti oleh suatu organisasi. Sedangkan yang tidak bisa diantisipasi adalah krisis eksternal yang juga sama-sama berbahaya.

Organisasi perlu membentuk tim manajemen krisis yang permanen dan ramping, agar mereka dapat selelu berkomunikasi. Bila terjadi krisis, tim ini harus mengambil inisiatif dan memberikan respon pertama untuk menjelaskan kepada publik, jangan sampai tim merespon akibat pertanyaan pers. Upaya menutup-nutupi krisis bisa berakibat fatal, misalnya pers semakin aktif menurunkan tim investigasinya untuk mengorek krisis lebih dalam.

Tugas utama yang harus dilakukan oleh tim krisis adalah melakukan identifikasi krisis dan menentukan langkah-langkah apa yang harus dilakukan. Semua tim harus bisa menjelaskan pesan-pesan komunikasi yang sudah disepakati. Tim manajemen krisis harus menghindari pernyataan off the record, karena dia benar-benar menguasai masalahnya. Baik sekali kalau diterbitkan buku petunjuk penanggulangan krisis.

Ada hal penting yang diingat oleh praktisi PR, soal pers, dalam situasi krisis, yaitu :
  • Pers beranggapan bahwa berita buruk adalah berita yang baik bagi pers.
  • Pers seperti burung pemakan bangkai, akan mencecar korban dengan pertanyaan-pertanyaan yang bisa memojokkan
Dalam konteks tersebut, penting untuk diketahui bagaimana strategi berhubungan dengan media yang baik. Karena hal demikian akan menjadi salah satu kunci penting, bagaimana PR dapat mengambil peranannya dengan baik.

Selain pers, stakeholder lainnya juga penting untuk dihadapi secara khusus. Banyak pertanyaan-pertanyaan yang berkaitan dengan krisis pasti akan diajukan oleh pihak-pihak yang berkepentingan. Tim juga harus bisa menjelaskan hal yang sama kepada stakeholder.
Untuk memuluskan program PR, bisa pula dihadirkan pihak ketiga yang dianggap kompeten dan netral. Pihak ketiga ini bisa perorangan maupun organisasi yang dianggap bisa memberikan opini yang independen, namun menguntungkan.

Disinilah peranan lobbying yang seharusnya selalu dilakukan oleh PR menjadi sangat berarti. Hubungan baik dengan pihak tokoh masyarakat, para pengamat, LSM, karyawan berpengaruh, dapat menjadi pihak ketiga yang penting untuk memuluskan program PR, baik sebagai nara sumber pers, atau pun menjelaskan kepada publik mengenai masalah yang terjadi.

Dengan demikian, PR dapat berperan sebagai penarik dan penilai kesimpulan atas opini, sikap serta aspirasi dari berbagai kelompok masyarakat (internal dan eksternal) yang terkena dampak kegiatan PR. Selain itu, PR dapat juga mengajukan usul atau saran kebijakan atau etika perilaku tertentu yang akan menyelaraskan kepentingan klien dengan kelompok masyarakat tertentu. Juga, PR dapat merencanakan dan melaksanakan rencana janga pendek, menengah, dan panjang untuk menciptakan dan meningkatkan pengertian dan pemahanan terhadap objek, kegiatan, metode dan masalah yang dihadapi.

Pentingnya peranan PR dalam menghadapi isu atau krisis jelas tidak bisa diragukan lagi. Tidak bisa dibayangkan bagaimana jadinya bila organisasi mengalami krisis dan diisukan negatif, tapi tidak ada sfat PR yang menanganinya. Pasti isu akan semakin berkembang dan krisis akan semakin membesar.

Philip Kotler memasukkan humas dalam konsep Mega Marketing, intinya bangunlah citra melalui PR. Tanpa citra yang baik, organisasi akan dibenci dan produknya tidak laku. Tugas PR memang sangat luas, dari menjembatani komunikasi antara perusahaan dengan masyarakat, menjabarkan misi perusahaan lewat company profile, menggunakan pers untuk publisitas, meluncurkan opini lewat public figure, dan sejumlah peran lainnya.

Bahkan karena banyak berurusan dengan opini dan persepsi publik, PR juga digunakan untuk menyelamatkan nama baik perusahaan. Tugas PR bisa juga meluruskan opini yang keliru tentang suatu institusi.

Penulis: M. Ilfandi

Read more

Google Spreadsheet - Tugas Blog


Daftar Nama Yang Sudah Mengumpulkan Tugas !

KLIK LINK INI

Note:
- Yang namanya tidak ada harap lapor, soalnya data nama-nama diambil dari semester 4.
- Yang belum mengumpulkan diharapkan cepat, saya lelah menunggu.


Read more

Tahap Perkembangan Isu


Sesungguhnya manajemen isu dan manajemen krisis adalah dua hal berbeda namun saling berkaitan satu sama lain. jika melihat dari siklus atau tahapan isu dapat dikataan jika manajemen isu dilakukan sebagai antisipasi sebelum terjadinya krisis dan tetap harus dilakukan ketika krisis sedang berlangsung. Selain itu penting juga untuk dicatat bahwa isu adalah sesuatu yang tidak pernah mati, namun hanya menjadi tenang. Sedangkan krisis sendiri muncul pada tahap lanjut dari sebuah isu yang tidak dikelola dengan baik. Karena itu seringkali perbedaan antara isu dan krisis menjadi tipis dan samar samar. Karena itu  sangatlah penting bagi public Relations untuk memahami tahap perkembangan isu. Perkembangan dan tahapan isu sendiri menurut Hainsworth (Regester & Larkin, 2003:47), dapat diobservasi dalam cara yang dapat diprediksi, bersumber dari tren atau peristiwa yang berkembang melalui suatu rangkaian tingkatan yang dapat diidentifikasi serta tidak berbeda dari siklus perkembangan sebuah produk. Trend (tren) sendiri menurut Howard Chase adalah perubahan yang terdeteksi yang mendahului issue.

Karena tipisnya perbedaan antara isu dan krisis, sangatlah penting bagi public Relationsuntuk memahami tahap perkembangan isu. Crable & Vibbert (Smudde, 2001), dan Gaunt & Ollenburger (1995) mengatakan bahwa isu sering berubah menjadi krisis melalui beberapa tahap, yaitu potential, imminent, cuttent, critical, dan dormant. Kemudian kelima tahap ini dikombinasikan dengan tahapan isu yang disampaikan oleh Hainsworsth (1990, dan Meng, 1992, dikutip di Regester & Larkin, 2008), yaitu: origin, mediation dan amplification, organization dan resolution.

A.      Tahap Origin (Potential stage)

Pada tahap ini, tidak ada isu yang jelas dan tampak, namun kondisi muncul tampak jelas. Dalam tahap ini, ada liputan media yang signifikan, namun masyarakat, stakeholders, regulator atau organisasi/perusahaan yang sedang mengalami hal ini tidak mendefinisikan masalah. Pada tahap ini juga biasanya  seseorang atau kelompok mengekspresikan perhatiannya pada isu dan memberikan opini. Mereka juga melakukan tindakan tindakan tertentu berkaitan dengan isu yang dianggap penting. Ini adalah tahap penting yang menentukan apakah isu dapat kelola dengan baik atau tidak.  Public Relations mesti proaktif untuk memonitor (scanning) lingkungannya.

B.       Tahap Mediation dan Amplification (imminient stage/emerging)

Pada tahap ini, isu berkembang karena isu-isu tersebut telah mempunyai dukungan publik, yaitu ada kelompok-kelompok yang lain saling mendukung dan memberikan perhatian pada isu-isu tersebut. Pada tahap ini, tekanan-tekanan sudah mulai dirasakan organisasi untuk menerima isu. Menurut Regester & Larkin (2008), pada tahap ini sebenarnya oranisasi masih dapat menjaga agar isu tidak membesar. Tetapi, seringkali terjadi organisasi kesulitan karena saat mereka memperhatikan satu isu yang dianggap penting ternyata muncul isu susulan. Dalam hal ini, organisasi sebaiknya tidak terfokus pada satu isu tetapi juga memperhatikan isu-isu lainnya. Pada tahap ini, organisasi mesti mulai berupaya mengelola arus informasi dengan menyediakan informasi yang aktual, benar, berbasis data dan membuka saluran komunikasi dua arah. Tujuannya adalah agar isu tidak membesar melalui pemberitaan media, mumpung pada tahap ini pemberitaan media masih bersifat sporadicdan hanya dilakukan beberapa media saja.

C.      Tahap Organization (Current stage dan critical stage)

Ini merupakan tahap akut, dimana krisis sudah menyerang, dan organisasi tidak punya pilihan lain kecuali melakukan tindakan. Saat ini organisasi tidak bisa diam lagi. Pada tahap ini sudah mulai adanya kemarahan publik yang menuntut perubahan, pengawasan media dan keterlibatan regulasi. Stakeholder sangat menyadari perubahan, dan organisasi atau industri dalam krisis mengalami penurunan ekuitas merek  serta keuntungan yang signifikan. Meskipun ada banyak definisi mengenai krisis, namun secara garis besar dapat dikatakan bahwa Krisis adalah suatu peristiwa yang merupakan tak terduga, ancaman utama yang dapat memiliki efek negatif pada organisasi, industri atau stakeholder jika tidak ditangani dengan tepat. Karena itu dapat dikatakan tahapan ini juga merupakan tahap organisasi, karena pada tahap ini publik sudah mulai mengorganisasikan diri dan membentuk jaringan-jaringan. Isu berkembang menjadi lebih popular karena media massa memberitakannya berulang kali dengan eskalasi yang tinggi dan ditambah interaksi di media sosial dan jaringan. Akibatnya, isu menjadi diskusi publik dan bermunculan beberapa pemimpin opini publik. Mereka biasanya memberikan komentar-komentar yang mempengaruhi publik melalui media massa.

Sementara itu, critical stage terjadi bila publik mulai terbagi dalam dua kelompok, setuju dan menentang. Menurut Hainsworth, tahap ini dapat disebut tahap krisis. Masing-masing pihak berupaya mempengaruhi pengambil kebijakan untuk semakin terlibat, sebagai penengah/pemecah masalah yang lebih memihak pada kelompok tertentu. Dalam situasi ini, media massa memegang peran penting karena kemampuannya dalam diseminasi pesan dan pembentuk opini. Karena itu Public Relations diharapkan memberikan informasi yang jelas, terbuka, dan jujur kepada media massa dan diharapkan membangun relasi yang baik dengan media untuk memperoleh publisitas positif.

D.      Tahap Resolution (dormant stage)

Pada tahap ini, pada dasarnya organisasi dapat mengatasi isu dengan baik, sehingga isu diasumsikan telah berakhir sampai seseorang memunculkan kembali dengan pemikiran dan persoalan baru atau muncul isu baru yang ternyata mempunyai keterkaitan dengan isu sebelumnya atau pada waktu peringatan saat isu mulai muncul pertama kali. Kondisi-kondisi diatas dapat memunculkan isu yang sama kembali jika masih terdapat ketidakpuasan pada publik

Model  Proses Manajemen Isu

Sebagaimana dibahas diatas, bahwa model proses manajemen isu sendiri sangat bervariasi. Satu diantaranya adalah model yang dikemukakan Chase & Jones (dalam Regester & Larkin, 2003:59-60; Chase, 1984:38-68; Harrison, 2001). Model ini terdiri dari lima tahap, diantaranya adalah :

1.        Identifikasi Issue:

Tujuan utama identifikasi issue adalah untuk menempatkan prioritas awal atas berbagai issue yang mulai muncul.  Issue-issue tersebut dapat diklasifikasikan berdasarkan:

-Jenis: sosial, ekonomis, politis, teknologis
-Sumber Respon: sistem bisnis, industri, perusahaan, anak perusahaan, departemen
-Geografi: internasional, nasional, regional, daerah, lokal
-Jarak terhadap kontrol: tak terkontrol, agak terkontrol, terkontrol
-Kepentingan: segera, penting

2.        Analisis Issue:

Fokus utama dalam tahap ini adalah untuk memanfaatkan pengalaman masa lalu dengan isu saat ini. Hal ini dapat dilakukan dengan  pengamatan/penelitian kuantitatif dan kualitatif mengenai bagaimana yang orang rasakan berkaitan dengan isu tersebut, tindakan apa yang telah diambil, bagaimana perusahaan melakukan sesuatu dengan hal tersebut. Secara umum, harus dilihat bagaimana dampak isu tersebut terhadap organisasi dengan melihat  posisi perusahaan pada saat ini serta kekuatan dan kelemahannya dalam memposisikan diri untuk berperan dalam pembentukan issue akan membantu untuk memberikan fokus yang jelas bagi tahap perencanaan tindakan.Riset aplikasi tentang hubungan issue terhadap perusahaan harus ditargetkan pada para pembentuk opini dan penanggungjawab media. Tahap riset dan analisa awal ini akan membantu mengidentifikasi apa yang dikatakan oleh para individu dan kelompok berpengaruh tentang issue-issue dan memberikan ide yang jelas pada manajemen tentang asal serta perkembangan issue-issue tersebut.

3.        Pilihan Strategi Perubahan Issue :

Tahap ini melibatkan pembuatan keputusan-keputusan dasar tentang respon organisasi. Pada dasarnya, setiap isu memerlukan “posisi/sikap.” Ada beberapa alternatif sikap yang bisa diambil oleh organisasi, yang dapat bersifat reaktif, adaptif atau dinamis :

  1. Strategi Perubahan Reaktif : Mengacu pada keengganan suatu organisasi untuk berubah dengan penekanan pada melanjutkan sikap lama, contohnya dengan berusaha untuk menunda keputusan kebijakan publik yang tidak bisa dihindari. Keengganan untuk berubah ini jarang menyisakan ruang bagi kompromi terhadap masalah legislatif.
  2. Strategi Perubahan Adaptif : Menyarankan pada keterbukaan terhadap perubahan serta kesadaran bahwa hal ini tidak bisa dihindari. Pendekatan ini berlandaskan pada perencanaan untuk mengantisipasi perubahan serta menawarkan dialog konstruktif untuk menemukan sebuah bentuk kompromi atau akomodasi.
  3. Strategi Respon Dinamis : Mengantisipasi dan mengusahakan untuk membentuk arah keputusan kebijakan publik dengan menentukan bagaimana berkampanye melawan issue akan dilakukan. Pendekatan ini menjadikan organisasi sebagai pelopor pendukung perubahan.

4.        Pemrograman Tindakan Terhadap Issue

Dalam tahap ini Organisasi harus memutuskan kebijakan yang mendukung perubahan yang diinginkan untuk masuk ke tahap keempat. Oleh karena itu semua bagian organisasi harus dimanfaatkan dan disinkronisasikan satu sama lain. dengan kata lain tahap ini membutuhkan koordinasi sumber-sumber untuk menyediakan dukungan maksimal agar tujuan dan target dapat tercapai.

5.        Evaluasi Hasil

Tahap akhir adalah mengevaluasi hasil program yang didapat (actual) dibandingkan dengan hasil program yang diinginkan.


Penulis: Hesti Rahayu
Read more