Jumat, 02 November 2018

Krisis, Faktor Penyebab Krisis, Managemen Krisis, Mengatasi Krisis, dan Kesalahan Penanganan Krisis



Indonesia adalah negara yang kaya akan sumber daya alam, tak dapat dipungkiri akhirnya perusahaan-perusahaan asing melirik kekayaan indonesia. Contohnya saja PT. Chevron, PT. RAPP dan masih banyak lagi, di sepanjang tahun  2018 penurunan nilai tukar dollar ke rupiah melonjak tinggi. Rupiah sempat menyentuh angka Rp. 15.000,- per dollar AS. Hal ini lah yang membuat krisis keuangan terjadi.

Krisis juga terjadi ketika pesawat Lion Air jatuh di Solo pada tanggal 30 November 2004 dengan nomor penerbangan JT-538 tergelincir saat hendak mendarat di Bandar Udara (Bandara), Adisumarmo, Solo, Jawa Tengah. Beberapa jam setelah kejadian, Public relations Lion Air muncul dibeberapa stasiun televisi untuk menyampaikan informasi awal seputar kejadian, baik itu penyebab kecelakaan, korban yang jatuh, pernyataan keprihatinan hingga masalah penanganan selanjutnya. Inilah sebenarnya langkah awal yang dibutuhkan publik agar mendapatkan kecukupan informasi. Di mata publik juga ini merupakan langkah awal yang baik sebagai rasa tanggung jawab Lion Air. Pesawat Lion Air pun kini mengalami hal yang sama seperti kejadian sekitar 14 tahun silam di Solo.

Pesawat Lion Air dengan penerbangan JT-610 berangkat dari Bandara Soekarno-Hatta menuju Pangkal Pinang mengalami kecelakaan setelah lepas landas pada hari Senin, 29 Oktober 2018 pukul 06.20 WIB. Setelah 13 menit mengudara pesawat jatuh di Perairan Karawang.  Corporate Communications Strategic of Lion Air, Danang Mandala Prihantoro menyampaikan informasi “Lion Air sangat prihatin dengan kejadian ini, pihak Lion Air akan bekerja sama dengan instansi terkait dan semua pihak yang sehubungan dengan kejadian ini”. Inilah merupakan langkah awal yang sangat dibutuhkan publik sebagai rasa tanggung jawab Lion Air.

Dari contoh-contoh krisis diatas. Nah, kali ini saya akan memberikan sedikit ilmu mengenai KrisisFaktor Penyebab Krisis, Managemen Krisis, Mengatasi Krisis, dan Kesalahan Penanganan Krisis

1.             Memahami krisis

Konflik di dalam organisasi dapat memicu krisis. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), krisis adalah keadaan yang berbahaya, sementara itu, Robert P. Powell dalam bukunya yang berjudul CrisisA Leadership Opportunity (2005), mengungkapkan bahwa krisis merupakan kejadian yang tidak diharapkan, berdampak drastis, kadang belum pernah terjadi sebelumnya yang mendorong organisasi kepada suatu kekacauan (chaos) dan dapat menghancurkan organisasi tersebut tanpa adanya tindakan nyata selain itu, krisis juga dipandang sebagai sebuah titik balik dalam sebuah organisasi.

Krisis selalu harus ditanggapi dengan cepat dan tepat didalamnya termuat program kerja yang terencana secara matang dan berpandangan kedepan. Program kerja, terutama, yang dibidangi oleh PR harus mampu secara visioner membuat perkiraan sebagai langkah antispasi krisis. Nah jika memang terjadi krisis harus cepat diredam dan dengan cerdik mengubah suatu masalah menjadi modal kekuatan.

2.             Faktor-faktor Penyebab Krisis

PertamaBencana alam.  Contohnya gempa bumi, letusan gunung berapi, dan banjir bandang sering mewarnai kehidupan manusia. Celakanya, manusia sendiri tidak siap dalam menghadapi kemungkinan bencana. Setelah terjadi dan tidak dapat ditangani, benca alam memicu sebuah krisis.

Kedua, Kecelakaan Industry, Kebakaran hingga kecelakaan kerja wajib menjadi perhatian serius sebuah organisasi atau sebuah perusahaan. Jika tidak diantisipasi, berita buruk akan menjadi santapan lezat bagi media massa.

Ketiga, Kualitas Produk, Cacat produk  baik barang maupun jasa akan mengurangi penilaian konsumen. Kondisi tersebut berpengaruh secara langsung kepada citra dan reputasi. Menurunnya citra dan reputasi memangkas kekuatan finansial suatu organisasi.

KeempatPersepsi Publik, Persepsi publik yang negatif, terutama ketika terjadi krisis sangat memengaruhi daya tahan organisasi. Misalnya, setelah ditemukan cacat produk, organisasi tidak segera melakukan perbaikan. Kondisi tersebut berhasil direkam publik dan citra organisasi tercoreng. Kerugian dari sisi moral dan finansial jelas akan terjadi. Maka, krisis persepsi publik mulai lahir.

KelimaFaktor Hubungan Kerja, hubungan kerja antara pekerja dan organisasi atau perusahaan harus terkendali. Kekuatan pekerja dapat memaksa industri untuk gulung tikar. Akibatnya, organisasi terpaksa bertindak agresif. Hubungan kerja sudah selayaknya dijaga supaya tidak sampai pada level saling merusak.

Keenam, Kesalahan Strategi Bisnis, Perencanaan dan implementasi strategi bisnis yang keliru dapat membawa orgasnisasi menuju krisis. Krisis jenis ini biasanya tidak dapat diprediksi, ini dikarenakan pergeseran pasar yang mendadak tidak diantisipasi, gagal menyesuaikan diri dengan kebijakan pasar dan krisis global.

KetujuhKriminalitas, Mulai dari terorisme, pembajakan, kekerasan, perjudian, pemalsuan hingga pencurian. Tingkat kriminalitas dapat memicu krisis-krisis apabila organisasi tidak dapat bertahan.

KedelapanPergantian Manajemen. Pergantian pada jajaran manajemen, terutama orang-orang yang terpercaya, dan dapat diandalkan, dapat membuat organisais goyah. Organisasi harus sudah melakukan langkah persiapan sebelum melakukan regenerasi.

Kesembilan, Persaingan Bisnis. Monopoli organisasi besar terhadap pasar menyulitkan banyak pihak untuk berinvestasi dan berkembang. Kerugian menjadi hal yang jamak dan daya tahan organisasi menjadi sangat teruji. Jika gagal bertahan, krisis level financial akan merembet dengan cepat dan membunuh masa depan organisasi.

3.             Managemen Krisis

Upaya organisasi untuk mengatasi krisis disebut sebagai managemen krisis (crisis management). Delvin (2007:1) mengatakan “crisis management is special measure taken to solve problems caused by a crisis.” Istilah ‘solve’ pada definisi diatas dapat diartikan bahwa upaya mengatasi krisis pada dasarnya merupakan proses bertahap (step by step) dan melalui rangkaian aktivitas. Pada tahap awal ini harus membatasi persoalan atau area krisi untuk meminimalkan efek kerusakan bagi organisasi. Tujuan dari managemen krisis adalah menghentikan dampak negatif dari suatu peristiwa melalui upaya persiapan dan penerapan bebarapa strategi dan takti.

4.             Mengatasi Krisis 

Tidak jarang, krisis menjatuhkan indivividu atau organisasi dengan keras. Krisis memang menguji daya tahan dengan kekuatan. Meskipun sangat berat, bukan berarti krisis tidak dapat diatasi. Berikut beberapa cara meredam dan mengatasi krisis:

PertamaMeramal. Sejak awal menetapkan kebijakan dan program kerja, organisasi dan divisi PR harus sudah melakukan pemetaan faktor hingga resiko dari sebuah krisis yang mungkin terjadi.

Kedua, Mencegah. Mencegah selalu lebih baik daripada mengobati. Kalimat bijak tersebut juga berlaku untuk krisis. Organisasi yang baik adalah organisasi yang tanggap terhadap gejolak-gejolak yang dapat memicu masalah. Divisi PR harus sudah memiliki rancangan dan cetak biru untuk “memadamkan benih api” sebelum berkembang menjadi “kebakaran”.

 KetigaIntervensi. Manajemen organisasi  harus berani  “turun tangan” untuk ikut berkerja keras mendukung krisis. Pengendalian keadaan akan menjadi langkah pertama dan usaha menangani krisis. 

Jika gejolak terjadi ditengah karyawan, intervensi dari manajemen merupakan langkah yang dianjurkan. Namun, tentu harus selalu dalam koridor konsep PR yang ideal dan justru melahirkan krisis lanjutan.

5.               Kesalahan Penanganan Krisis
  • Tidak adanya audit yang ketat.
  • Tidak membuat perencanaan sebelum krisis terjadi.
  • Tidak membuat rencana krisis.
  • Tidak melakukan simulasi situasi krisis.
  • Komunikasi internal yang tidak efektif.
  • Komunikasi eksternal yang tidak efektif.
  • Menganggap dan memperlakukan media seperti lawan.
  • Abai tehadap ancaman dan resiko yang dibawa krisis
  • Enggan membangun komunikasi dengan publik.
  • Kurang efektif ketika memaksimalkan pesan.
  • Tidak membentuk sebuah tim khusus menangani krisis.
  • Kurang memaksimalkan kekuatan website dan internet.
  • Meremehkan potensi dan ancaman krisis
  • Gagal membangun hubungan yang harmonis dgn staf dan konsumen.

Kesimpulan

Delvin (2007:1) mengatakan “crisis management is special measure taken to solve problems caused by a crisis.” Pada beberapa kasus, krisis terjadi justru diawali oleh konflik internal yang tidak segera ditangani. Masalah kian membesar dan konflik internal berkembang menjadi krisis. Langkah-langkah antisipasi dan solusi harus sudah disiapkan sejak membuat program kerja. Manajemen, dibantu divisi PR adalah ujung tombak untuk antisipasi konflik dan krisis. Peta konflik dan krisis membantu organisasi merespons suatu masalah dan memadamkannya sebelum membakar banyak aspek.

Memetekan konflik dan krisis ketika merancang program kerja artinya menyiapkan diri sebaik mungkin. Manajemen krisis membantu organisasi keluar dari saat-saat yang berat dan menghindari berhentinya roda bisnis. Sikap terbuka, jujur dan bertanggung jawab kepada publik internal dan eksternal harus dimiliki manajemen dan jajaran pimpinan. Siap mulai tersebut turut memengaruhi citra dan reputasi, terutama untuk menghadapi situasi pascakrisis.

Evaluasi merupakan langkah bijak dalam memandang krisis. Langkah ini menjadi cermin sekaligus bekal pengalaman menghadapi krisis di masa depan. Jika organisasi abai terhadap evaluasi, dampak negatif krisis akan terus menggerogoti aspek finansial, moral dan sosial. Kepercayaan publik akan runtuh dan masa depan organisasi terancam. Pada akhirnya, konflik dan krisis bukan akhir dunia, tetapi media belajar untuk menjadi organisasi yang professional dan mempunyai daya juang.
Itulah sedikit ulasan mengenai Krisis, semoga blog ini bermanfaat dan menambah wawasan teman-teman semua.



Sumber:
Gassing,  Syarifuddin S & Suryanto S. 2016. Public Relations. Yogyakarta: C.V ANDI OFFSET

Kriyantono, Rachmat. 2012. Public Relations & Crisis Management Pendekatan Crtical Public Relations Etnografi Kritis & Kualitatif.  Jakarta: KENCANA Prenada Media Group.





Penulis: Nanda Rayhanah Nst
Read more

Model Tahapan Krisis , Manajemen Krisis Dan Komunikasi Krisis


Fink (1986, dikutip di Coombs, 2010:22) adalah orang yang pertama kali menyimpulkan bahwa krisis terjadi melalui beberapa tahapan, yang disebut model perkembangan krisis. Model Fink ini terdiri dari 4 tahapan yaitu:

1.        prodormal, adanya tanda-tanda peringatan munculnya krisis. Tahap prodromal biasanya muncul dalam salah satu dari tiga bentuk ini: Jelas sekali :Gejala-gejala awal terlihat jelas. Misalnya ketika karyawan datang ke manajemen untuk meminta kenaikan gaji, perbedaan pendapat di antara direksi, kerusakan alat di pabrik (internal); selebaran gelap di masyarakat (eksternal).Samar-samar :Gejala yang muncul tampak samar-samar karena sulit menginterpretasikan dan menduga luasnya suatu kejadian. Misalnya deregulasi, munculnya pesaing baru, ucapan pembentuk opini kadang-kadang tidak langsung terasa dampaknya pada perusahaan, namun dapat menjadi masalah besar di kemudian hari.Sama sekali tidak terlihat: Gejala-gejala krisis bisa tak terlihat sama sekali. Misalnya kerugian yang dialami salah satu produk atau salah satu lini yang dirasakan wajar oleh sebuah perusahaan. Namun yang terpikirkan oleh perusahaan tersebut adalah seberapa jauh kerugian itu dapat menjadi kanibal seperti kasus Bank Summa yang menelan saham keluarga Suryadjaya pada PT. Astra Internasional.

2.        accute, yaitu terjadi krisis, Tahap akut adalah tahap antara, yang paling pendek waktunya dibanding dengan tahap-tahap lainnya, tetapi merupakan masa yang cukup menegangkan dan paling melelahkan bagi tim yang menangani masalah krisis tersebut. Bila ia lewat, maka umumnya akan segera memasuki tahap kronis.

3.        chromic, yaitu priode pemulihan. Pada tahap ini, pristiwa krisis masih tersimpan dalam ingatan orang-orang untuk waktu yang cukup lama, Tahap ini juga merupakan masa pemulihan citra dan upaya meraih kembali kepercayaan dari masyarakat, di samping juga merupakan masa untuk mengadakan “introspeksi” ke dalam dan keluar mengapa peristiwa tersebut bisa terjadi (recovery & self analysis). Masa ini berlangsung cukup panjang, tergantung pada jenis dan bentuk krisisnya. Contohnya adalah Bank Duta. Begitu selesai mengatasi masa krisis, perbaikan struktur manajemen atau organisasi, rekapitalisasi dan operasinya, bank tersebut tumbuh dan berhasil pulih kembali dalam khazanah dunia perbankan.

4.        crisis resolution, organisasi dapat melakukan aktivitas secara normal lagi. Meski bencana besar telah berlalu, manajemen tetap perlu berhati-hati karena terdapat kemungkinan krisis kembali ke keadaan semula (tahap prodromal). Khususnya departemen humas, harus lebih siap dengan “strategi manajemen krisis” untuk mengantisipasi hal serupa di kemudian hari, baik untuk krisis yang sama maupun untuk krisis yang lain.

Setelah Fink, bermunculan beberapa model manajemen krisis. Smith (1990, dikutip di Coombs, 2010), membangun model 3 tahap proses manajemen krisis: crisis management, yaitu krisis pada tahap awal yang terus dijaga dan diawasi perkembangan krisis, operational crisis, yaitu tahap ketika muncul pristiwa yang memicu dan muncul respon pertama kali, crisis of legitimation, suatu tahap ketika respon-respon komunikatif sudah tersedia, ada ketertarikan dan perhatian media massa dan pemerintah, dan pembelajaran organisasi terjadi.disini tampak jelas bahwa Smith menjelaskan manajemen krisis sama dengan perkembangan krisisnya sendiri.

Sementara itu komunikasi krisis dapat dikelompokkan menjadi dua tipe dasar, yaitu menejemen pengetahuan krisis dan menejemen reaksi publik (Coombs, 2010). Strategi komunikasi krisis pada jenis pertama diarahkan untuk mengidentifikasi sumber-sumber informasi, mengumpulkan informasi, dan menganalisis informasi. Ketiga hal itu merupakan aktivitas berbagai pengetahuan tentang krisis dikalangan internal untuk pembuatan keputusan. Strategi manajemen pengetahuan krisis, menurut Coombs, 2010. “is behind the scene”, yaitu trjadi didalam kerja tim menejemen krisis. Sementara jenis kedua, menejemen reaksi publik, mengarahkan semua proses komunikasi untuk memengaruhi persepsi publik tentang krisis, persepsi tentang organisasi dan segala upaya organisasi mengtasi krisis. Saya menambahkan dengan strategi merestorasi citra, yaitu mengembalikan atau memulihkan reputasi yang sempat hilang akibat krisis. Model manajemen krisis dan komunikasi krisis disesuaikan dengan tahapan krisis (tabel dibawah).

Tahap krisis
Model Manajemen Krisis
Model Komunikasi Krisi
Pra krisis
Signal detection, prevention, preparation.
Membentuk pengetahuan tentang krisis (lebih bersifat internal), menyamakan persepsi diantara anggota organisasi.
Krisis
Mengetahui pristiwa-pristiwa pemicu dan respon, damage containment.
Memengaruhi persepsi publik tentang krisis, persepsi tentang organisasi dan segala upaya organisasi mengatasi krisis.
Pasca krisis
Recovery, learning, follow up informasi dengan publik, kerjasama untuk investigasi, berupaya kembali normal.
Memulihkan reputasi dan mengembalikan reputasi yang sempat hilang akibat krisis.

Sumber:
Kritantono, Rachmat. 2012. Public Relation & Crisis Management. Jakarta: Kencana

Wongsonagoro, Maria. “Crisis Management & Issues Management” (The Basics of Public Relations). Jakarta: IPM Public Relations, 24 Juni 1995.


Penulis: Suri Patmasari

Read more

Kamis, 01 November 2018

Kiat Zuckerberg Dalam Mengatasi Krisis Facebook


Krisis adalah suatu hal yang pasti pernah dialami oleh tiap perusahaan. Tak ada satupun perusahaan yang luput dari krisis, yang membedakan hanyalah pada seberapa besar krisis yang  dialami dan keberhasilan perusahaan dalam melewati krisis tersebut. Pengelolaan sebuah krisis merupakan faktor paling penting yang menjadi penentu terbentuknya opini masyarakat akan citra suatu perusahaan. Menurut Ahmad Fuad Afdhal (2004: 95), krisis menciptakan perusahaan dalam posisi menjadi perhatian masyarakat sehingga mempertanyakan manajemen perusahaan.

Berbagai krisis tersebut memaksa setiap perusahaan untuk meningkatkan revaluasi tingkat kesiapan mereka dalam menghadapi krisis yang dapat terjadi kapan saja. Perusahaan diharapkan mampu untuk menangani setiap krisis yang ada dengan baik. Selain itu, perusahaan juga harus mampu melihat peluang dari suatu krisis yang muncul karena pada dasarnya krisis dapat memberikan dampak negatif maupun dampak positif. Sejalan dengan yang diungkapkan oleh Nova (2011: 65) bahwa walaupun di dalam krisis terdapat ancaman, tetapi kita harus mencari peluang-peluang yang ada di balik krisis.

Ditengah keterbuaian dunia terhadap kemajuan teknologi, yang kemudian diikuti dengan bergantungnya manusia pada sosial media, ternyata di lain sisi ada yang terlupa oleh pengguna yaitu perihal keamanan data mereka. Masyarakat umum hingga pejabat negara menaruh kepercayaan penuh untuk berbagi data melalui sosial media, hingga tiba pada Bulan Maret 2018 dimana dunia mengetahui fakta bahwa sebanyak 50 juta data personal pengguna Facebook dicuri dan disimpan firma analisis data Cambridge Analytica. Firma tersebut bekerja untuk kampanye pemenangan Donald Trump pada pilpres 2016 lalu. Tidak hanya Cambridge Analytica, data pengguna Facebook juga tersimpan dalam arsip Strategic Communications Laboratories (SCL). 

Kedua perusahaan ini memang saling berafiliasi. Cambridge Analytica dan SCL diduga memperoleh data pengguna Facebook dari peneliti pihak ketiga bernama Aleksandr Kogan. Ia bekerja di Global Scicence Research dan kerap menghadirkan survei terkait kepribadian yang tersebar masif di Facebook. Dari 50 juta data pengguna Facebook yang berceceran di tangan pihak ketiga, 30 di antaranya sudah lengkap untuk memetakan data dan perilaku seseorang, sehingga jika sudah seperti itu, maka privasi pengguna hanya sebatas kata.

Peristiwa ini merupakan salah satu krisis terbesar yang dialami jejaring sosial terbesar dunia itu. Tekanan serta pertanyaan besar dari berbagai pihak muncul secara keras, cepat dan berkelanjutan. Parlemen Inggris juga dikabarkan akan segera memeriksa Mark Zuckerberg terkait skandal tersebut. Krisis tersebut sukses menghantar pendiri Facebook dilanda kerugian material dalam jumlah yang besar, diantaranya harta Zuckerberg turun 4,9 miliar dollar AS atau sekitar Rp 67,5 triliun dalam sehari. Sementara tekanan ini berlanjut, investor saham khawatir, Facebook akan dijatuhi regulasi lebih berat. Sahamnya terperosok hingga 6,8 persen, dan memangkas kekayaan Zuckerberg menjadi 70,4 miliar dolar AS.

Peristiwa yang dialami Facebook tersebut berdasarkan penjabaran mengenai krisis perusahaan yang diungkapkan oleh Rosady Ruslan dalam bukunya yang berjudul Praktik dan Solusi Public Relations dalam Situasi Krisis dan Pemulihan Citra memenuhi kategori krisis karena produk perusahaan tersebut  telah merugikan dan membahayakan penggunanya. Dalam situasi krisis seperti ini, untuk menanggulangi krisis tidak berkembang menjadi krisis yang lebih besar dan bisa merusak reputasi perusahaan, maka perlu dilakukan Manajemen Krisis. Adapun tahapan strategi penanggulangan dan pengelolaan krisis menurut Rosady Ruslan adalah sebagai berikut:

1. Mengidentifikasi Krisis

Tahap pertama merupakan penetapan untuk mengetahui suatu masalah krisis. Mengidentifikasi faktor penyebab terjadinya krisis berfungsi untuk mengetahui, apakah public relations (PR) atau perusahaan dapat menangani krisis yang terjadi itu dengan segera atau tidak. Bila krisis tersebut sulit untuk diatasi, membuang waktu, tenaga, dan biaya maka PR dapat melihat segi lain dari krisis tersebut yang persoalannya tidak terbayangkan sebelumnya, yakni biasanya suatu perusahaan yang terkena krisis atau musibah disertai kemunculan masalah lain yang tidak diduga sebelumnya. Oleh karena itu, faktor utama penyebab krisis yang signifikan tersebut harus terlebih dahulu diidentifikasikan, untuk diambil tindakan atau langkah-langkah penanggulangan atau jalan keluarnya secara tepat, cepat dan benar.

2. Menganalisis Krisis

Diperlukan langkah-langkah yang perlu diambil untuk mengatasi krisis. Langkah tersebut diperoleh dengan menganalisis krisis secara mendalam, sistematis, informatif dan deskriptif terhadap krisis yang terjadi melalui suatu laporan yang mendalam (in-depth reporting). Salah satu cara untuk menganalisis adalah dengan formula 5W + 1H yaitu menganalisis melalui beberapa pertanyaan yang diajukan untuk menetapkan penanggulangan suatu krisis, yakni:

What Apa penyebab terjadinya krisis itu
Why Kenapa krisis itu bisa terjadi
Where and when Dimana dan kapan krisis itu mulai
How far Sejauh mana krisis itu berkembang
How Bagaimana krisis itu terjadi
Who Siapa-siapa yang mampu mengatasi krisis tersebut, apakah perlu dibentuk suatu tim penanggulangan krisis

Pertanyaan-pertanyaan tersebut di atas adalah untuk menganalisis penyebab, mengapa dan bagaimana, sejauh mana perkembangan krisis itu terjadi, dimana mulai terjadi hingga siapa-siapa personel yang mampu diajak untuk mengatasi krisis tersebut.

3. Mengatasi dan Menanggulangi Krisis

Tahapan ini adalah untuk mengetahui bagaimana dan siapa-siapa personel yang mampu diikutsertakan dalam suatu tim penanggulangan krisis. Mengatasi bagaimana krisis tersebut agar tidak berkembang dan dicegah supaya tidak terulang lagi di masa mendatang. Untuk mengatasinya, selain memberikan informasi yang sejelas-jelasnya, juga perlu diajak pihak ketiga, pejabat pemerintah yang berwenang dalam hal ini, tokoh masyarakat dan lainnya sebagai upaya menetralisasi terhadap tanggapan negatif dan kontroversial.

Karena dianggap sebagai kekuatan, pihak ketiga berfungsi mengukuhkan perbaikan situasi dan kondisi krisis (the third party endorsement), secara tepat dan benar. Tindakan lainnya secara preventif dan antisipatif adalah memperbaiki sistem pengamanan agar lebih ketat dan terjamin dalam proses produksi, mulai dari bahan baku, pengolahan hingga barang jadi untuk menghindarkan kejadian serupa di kemudian hari.

4. Mengevaluasi Krisis

Tindakan terakhir adalah mengevaluasi krisis yang terjadi. Tujuannya adalah untuk melihat sejauh mana perkembangan krisis itu di dalam masyarakat. Apakah perkembangan krisis tersebut berjalan cukup lamban atau cepat, meningkat secara kuantitas maupun kualitas serta bagaimana jenis dan bentuk krisis yang terjadi.

Jika dilihat berdasarkan 4 tahapan tersebut, dalam menghadapi krisis Facebook yang terus bergulir, Mark Zuckerberg sebagai CEO dan pendiri Facebook pada Maret 2018 setelah dapat mengidentifikasi dan menganalisis krisis yang terjadi, pihaknya mengeluarkan pernyataan pengakuan bahwa perusahaannya membuat kesalahan dan berjanji akan mengambil langkah tegas membatasi developer mengakses informasi-informasi pengguna. Dalam mengatasi dan menanggulangi krisis, Zuckerberg menyatakan bahwa atas peristiwa ini, pihaknya telah mengambil langkah tegas dengan melakukan pencekalan terhadap perusahaan Cambridge Analytica, serta bekerjasama dengan regulator untuk melakukan investigasi terkait permasalahan ini. 

Sedangkan memasuki tahap evaluasi krisis, facebook berkomitmen untuk membatasi akses data pengembang, untuk mencegah penyalahgunaan lainnya; menghapus akses pengembang menuju data pengguna, jika pengguna belum mengaktifkan aplikasi pengembang selama tiga bulan; mengurangi data yang diberikan pengguna saat mereka masuk, hanya mencakup data nama, foto profil, dan alamat email; serta mengharuskan pengembang untuk mendapatkan persetujuan dan juga menandatangani kontrak, untuk meminta izin kepada siapa pun, untuk mengakses unggahan mereka atau data pribadi lainnya. 


Begitulah langkah facebook dalam mengatasi krisis melalui 4 tahapan strategi penanggulangan dan pengelolaan krisis. Zuckerberg meyakinkan bahwa pihaknya telah belajar dari pengalaman dan berkomitmen untuk mengamankan wadah tersebut secara berkelanjutan.


Penulis: Abdi Ruwansyah


Read more

10 Tanda Sebuah Perusahaan Akan Bangkrut, Introspeksi dari Pailitnya Sariwangi


Tepat pada tanggal 16 Oktober 2018 produsen teh PT Sariwangi Agricultural Estates Agency (Sariwangi A.E.A) dan anak perusahaannya yaitu PT Maskapai Perkebunan Indorub Sumber Wadung (Indorub), akhirnya dinyatakan pailit oleh pengadilan setelah terjerat utang yang sangat besar.

Menurut Hakim Ketua Abdul Kohar dalam pertimbangannya pada waktu itu, wanprestasi karena kedua perseroan lalai melakukan pembayaran cicilan utang bunga. Sampai dengan jatuh waktu 20 Maret 2017, Sariwangi A.E.A dan juga Indorub, tidak bisa membuktikan telah menunaikan kewajibannya kepada PT Bank ICBC Indonesia (ICBC) selaku pemohon. Sariwangi A.E.A tidak menjalankan kewajiban membayar utang bunga senilai $416 ribu (6,2 miliar Rupiah) dan Indorub senilai $42 ribu (63 juta Rupiah) kepada ICBC. Untuk lengkapnya mengenai sengketa utang tersebut bisa dibaca disini.

Pada umumnya kebangkrutan pada sebuah perusahaan tidak mendadak terjadi begitu saja. Tetapi didahului oleh banyak hal sebagai peringatan dan tanda-tanda bahwa perusahaan itu sedang sakit.
Ibarat sakit, selalu dimulai dari gejala-gejala dan kemudian lama-lama menjadi berat jika tidak ditangani gejala-gejala tersebut. Bahkan kalau penanganannya keliru bisa memperbejar penyakitnya, hingga pada kematian.

Dalam buku Enterpreneurship, 7th edition 2017, Hisrich dan Peters mengidentifikasi ada 10 tanda-tanda yang harus diwaspadai bahwa perusahaan akan dan sedang menuju kepada kebangkrutan, yaitu diantaranya:

1.        Manajemen keuangan menjadi tidak ketat, sehingga tidak seorangpun dapat menjelaskan penggunaan uangnya.
2.        Para direktur tidak dapat mendokumentasikan atau menjelaskan transaksi-transaksi utama.
3.        Para pelanggan diberikan diskon besar-besaran untuk meningkatkan pembayaran akibat arus kas yang buruk.
4.        Berbagi kontrak diterima di bawah jumlah standard untuk menghasilkan uang tunai.
5.        Bank meminta penangguhan pinjaman-pinjamannya.
6.        Personnel penting meninggalkan perusahaan.
7.        Bahan-bahan untuk memenuhi pesanan kurang.
8.        Pajak penghasilan tidak dibayar.
9.        Para pemasok meminta pembayaran secara tunai.
10.    Keluhan-keluhan pelanggan mengenai kualitas pelayanan dan produk meningkat.

Sepuluh tanda diatas lebih dari cukup untuk sekedar mengingatkan pimpinan atau CEO sebuah perusahaan untuk memberikan dan fokus pada tanda-tanda yang ada. Secara umum, berbicara tentang perusahaan yang bangkrut dan pailit, selalu didominasi oleh masalah keuangan, khususnya cashflow yang tidak sehat dan tidak mampu memenuhi kebutuhan operasi perusahaan.

Kasus pailit dan bangkrutnya PT Teh Sariwangi yang sudah berumur 56 tahun, merupakan jaminan kaya akan pengalaman atau banyak makan asam garam. Tidak mungkin harusnya tidak paham dengan tanda-tanda sebuah kebangkrutan. Apalagi dalam industri produksi teh ini persaingannya tidak sekejam seperti persaingan di industri lainnya.

Mungkinkah ada faktor lain yang menyebabkan perusahaan besar ini menjadi bangkrut dan pailit? Jika ada mungkin dapat menjadi objek kajian studi untuk kepentingan ilmu manajemen dan organisasi serta manajemen keuangan.


Penulis: Rahmatang

Read more